Hade goreng ku basa. Peribahasa Sunda yang bermakna baik buruknya (suatu situasi) tergantung pada cara berbicara atau bahasa yang digunakan. Menekankan pentingnya komunikasi yang baik dalam memengaruhi hasil suatu urusan, termasuk dalam menyelesaikan masalah.
Di Tasikmalaya -Kota Sejuta Baso- peribahasa tersebut menjadi “Hade goreng ku baso”. Makna bebasnya sih, segala urusan atau permasalahan bisa diselesaikan dengan baso. Tak heran jika peribahasa tersebut banyak terpampang di dinding-dinding kedai baso di Tasikmalaya.

Tidak berlebihan jika disebut Kota Sejuta Baso. Sepertinya selalu saja ada kedai baso baru di Tasikmalaya. Seperti Baso H. Jahuri di Jl. Ir. H. Juanda, tepat berada di samping Alfamart, Linggajaya Mangkubumi.
Jalan Ir. H. Juanda adalah jalan yang biasa kami -saya dan teman- lalui menemani gurunda safari dakwah keluar kota Tasikmalaya. Kami juga tahu Baso H. Jahuri adalah kedai baso baru. Namun karena kesibukan gurunda, belum ada kesempatan untuk mencobanya.
Alhamdulillah. Akhirnya di Jumat (20/11) lalu kesempatan itu datang. Siang itu kami -gurunda, Abu Hafshoh, saya- meluncur ke kedai Baso H. Jahuri. “Di sana ada topping kikilnya,” ujar gurunda.
Sebagai tim kikil -penyuka kikil- saya pun antusias. Begitu pula Abu Hafshoh, bakal bisa menambah daftar baso di Tasikmalaya yang telah dicobanya. Kunjungan ke Baso H. Jahuri adalah kedai baso ke-58 baginya.
Tiga porsi mie baso kikil kami pesan. Hanya saja saya dan Abu Hafshoh memilih tidak memakai mie karena sebelumnya sudah makan siang. Harga per porsi Rp 18.000.

Kuahnya segar dan gurih. Basonya kres, daging banget. Baso gedenya ada cincang daging di dalamnya. Tambahan saos bawang, kecap manis, dan jeruk nipis: sempurna.
“Kikilnya lembut,” kata Abu Hafshoh.
Sepertinya tidak sia-sia kami mencoba Baso H. Jahuri. Selain basonya enak, tempatnya luas, bersih dan tenang.
(MN Tabroni, mantan editor di Gramedia Majalah, kakek 2 cucu, penikmat kopi yang kini nyantri di Madasta)
0 Komentar