Sichuan adalah salah satu provisi di Tiongkok. Provinsi yang berada di wilayah Tiongkok barat daya ini memiliki tanah yang subur dan sumber daya alam hayati yang sangat melimpah. Tidak salah jika provinsi ini menjadi salah satu pusat hasil pertanian di negara Tirai Bambu. Selain tanah subur, provinsi ini menjadi awal sejarah lahir salah satu ilmu pengobatan Tiongkok yang sedang berkembang beberapa dasawarsa ini. Tuina chuzhen mungkin masih sangat asing di telinga masyarakat Indonesia secara umum bahkan bagi seorang tenaga medis, tenaga kesehatan maupun tenaga kesehatan tradisional sekalipun.
Tuina chuzhen atau pestle needle adalah ilmu terapi yang datang dari keluarga Li yang berasal dari Sichuan bernama Li Erfei. Pada awalnya ilmu ini hanya diwariskan turun temurun yang mana ilmu ini tidak ditulis dalam buku-buku klasik tapi hanya di ajarkan melalui praktek dan pengajaran lisan di garis keturunan keluarga Li. Li Erfei sendiri mempelajari tuina chuznen dari gurunya yang bernama Ruhuan Zhenren.

Chuzhen sendiri baru berkembang di tiongkok atas inisiasi salah satu keturuan Li Erfei generasi ke 14 bernama Prof. Li Zhongyi. Beliau merupakan seorang konsultan PTT dari Chengdu University Of TCM dan merupakan pakar PTT terkenal di provinsi Sichuan, Tiongkok. Di Tiongkok, tuina chuzhen terbukti secara ilmiah dan sudah dipatenkan pada tahun 1989 serta sudah memiliki buku panduan praktek klinik. Di Indonesia Chuzhen masuk pada tahun 2009 oleh Prof Lo Rong perwakilan Chengdu University Of TCM dengan diawali pelatihan pada para akupunkturis.
Perkembangan yang cepat tentang ilmu tuina chuzen di Indonesia tidak terlapas juga dari peran dr.Willie Japarie. MARS.,Ph.D. yang dengan gigihnya menerjemahkan buku panduan praktek tuina chuzhen, mengajarkannya melalui seminar dan workshop diseluruh Indonesia dan memsukannya dalam mata kuliah prodi kesehatan dharma usada.
Pada pertengahan tahun 2025, telah terbit sebuah buku dengan judul Ilmu Dasar Tui Na Chuzhen “Teori Dasar dan Aplikasi Klinis” yang ditulis oleh Fakhrur Rozi Muchtar, AMd.Kep., S.Ud. dan R.M. Alfian, S.T., S.Tr.Kes., S.Ud., B.Med., M.Si. serta diberi sambutan oleh dr.Willie Japarie. MARS.,Ph.D. menjadi bagian sejarah perkembangan ilmu tuina chuzhen di Indonesia. Buku ini adalah buku pertama di Indonesia yang membahas ilmu tuina chuzhen yang memiliki nomor ISBN, dipasarkan secara bebas dan hak ciptanya sudah terdaftar di DJKI Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Tuina chuzhen adalah teknik terapi yang mudah dipelajari bagi masyarakat umum sekalipun. Teknik yang sederhana namun memiliki manfaat yang sangat luar biasa dan tidak kalah dari teknik pengobatan lainnya. Terdapat penelitian yang membandingkan efektifitas tuina chuzhen, elektroakupunktur dan pemberian obat diclopenac pada 210 pasien post operasi herniasi diskus lumbal dengan pembagian kelompok uji 1: 1 : 1. Hasilnya menunjukan bahwa ketiga metode terebut efektif mengurangi nyeri dan meningkatkan tonus otot pinggang. Walau tingkat efektifitas total tiga kelompok uji tidak berbeda secara signifikan. Namun, kelompok uji dengan tuina chuzhen ( pestle needle ) menunjukan hasil yang lebih baik dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan tonus otot dibandingkan dengan kelompok elektrostimulator dan pemberian diclopenac.
Pada kesempatan yang akan datang, kita akan membahas tentang ilmu tuina chuzhen dan manfaat dari terapi tuina chuzhen ?.
Ditulis oleh: Fakhrur Rozi Muchtar. AMd.Kep.,S.Ud. (Sinshe Rozi)
Mahasiswa Jiangxi University Of Chinese Medicine
0 Komentar